Minggu, 27 Januari 2013

0 Pendidikan di Kota Kreteg

       Pendidikan merupakan faktor yang harus terus ditingkatkan karena dari pendidikan tercipta kualitas sumber daya manusia yang sangat berperan penting dalam pembangunan. Dalam rangka meningkatkan kualitas pendidikan, penyediaan sarana prasarana pendukung dan tenaga pendidik harus dipersiapkan secara matang disesuaikan dengan perkembangan yang ada saat ini. Pendidikan digolongkan menjadi 2 yaitu pendidikan umum dan pendidikan keagamaan.
Penduduk yang bersekolah secara umum mengalami fluktuasi selama periode tahun ajaran 2003/2004 – 2007/2008, hal ini dapat dilihat dari banyaknya murid di beberapa jenjang pendidikan yang mengalami kenaikan dan penurunan. Pada tingkat pendidikan dasar yaitu SD (Negeri & Swasta) di tahun ajaran 2007/2008 jumlah murid yang bersekolah mengalami penurunan sebesar 1,83 persen dibandingkan dengan tahun ajaran sebelumnya. Sedangkan untuk pendidikan SLTP (Negeri & Swasta) mengalami kenaikan jumlah murid sebesar 0,44 persen dan untuk SLTA (Negeri & Swasta) naik sebesar 35,57 persen. Peningkatan jumlah penduduk  yang bersekolah, tentunya harus diimbangi dengan penyediaan sarana fisik dan tenaga guru yang memadai. Pada tahun ajaran 2007/2008, tersedia jumlah SD sebanyak 470 unit dan MI sebanyak 134 unit, SLTP dan MTs masing-masing sebanyak 45 dan 57 unit, SLTA dan MA masing-masing ada sebanyak 37 dan 29 unit.
Jumlah Universitas/Perguruan Tinggi pada tahun akademik 2008/2009 tercatat ada 8 buah, yaitu Universitas Muria Kudus (UMK) dan Sekolah Tinggi Agama Islam Negeri (STAIN) Kudus, Sekolah Tinggi Kesehatan (STIKES), Akademi Kesehatan Muhamadiyah, Akbid Mardi Rahayu, Akbid Pemda, Akper Krida Husada, Akademi Kebidanan Muslimat NU Kudus, dan Akademi Farmasi Kudus (Akfarku). Banyaknya mahasiswa periode 5 tahun terakhircenderung meningkat. Pada tahun akademik 2008/2009, secara keseluruhan jumlah mahasiswa tercatat 10.438 orang, dan di dukung oleh 358 dosen, dan pada tahun yang sama telah berhasil meluluskan sebanyak 1.865 mahasiswa.
Tabel: 4.4
Data Pendidikan di Kudus Tahun 2008

Jenis Sekolah
Jumlah Sekolah
Jumlah Siswa
Jumlah Guru
PendidikanUmum
TK
189
10.065
442
SLB
3
274
21
SD
473
68.470
3.999
SLTP
45
21.880
1.327
SMU
17
10.745
679
SMK

8.427
437
PendidikanKeagamaan
MI
134
21.628
1.526
MTs
57
19.316
1.311
MA
29
10.313
737
Sumber: KUDUS DALAM ANGKA 2008. BAPPEDA dan Badan Pusat Statistik Kabupaten Kudus.

Perkembangan madrasah di Kudus cukup menarik. Secara umum ada madrasah yang didirikan oleh masyarakat muslim dan sebagian didirikan oleh pemerintah. Sebagian besar madrasah tersebut memakai kurikulum nasional, baik dari Kementerian Agama maupun dari Kementerian Pendidikan Nasional dan ditambah kurikulum muatan tentang keagamaan.
Fenomena yang menarik adalah madrasah di Kudus Kulon. Madrasah-madrasah ini  didirikan oleh para kyai dan masyartakat. Pada awalnya madrasah tersebut hanya mengajarkan pelajaran agama yang bercorak salafiyah sampai akhir tahun 80-an. Sistem sekolahnya juga unik, ada madrasah yang mengkhususkan pada siswa putera saja seperti Madrasah Qudsiyah dan Madrasah TBS dengan tanpa seragam dan memakai sarung. Sedangkan Madrasah Banat mengkhususkan pada siswa puteri.   Awal tahun 90-an mulai ada beberapa perubahan, antara lain dengan dimasukkannya kurikulum nasional disamping kurikulum salafiah. Demikian pula tentang seragam, sudah mulai ditata secara tertib.
Madrasah ini sudah berdiri puluhan tahun dan sampai sekarang masih menunjukkan eksistensinya dengan jumlah murid yang cukup banyak.Bahkan cenderung semakin maju dan bertambah siswa-siswanya.
Hubungan madrasah dan pesantren bukan hanya sekedar hubungan kausalitas, bahwa munculnya madrasah berasal dari pesantren. Akan tetapi keberadaan pesantren betul-betul menjadi bagian penting dalam pendidikan di madrasah. Keberadaan pesantren sangat mendukung terhadap proses pembelajaran di madrasah. Apalagi dengan semakin padatnya mata pelajaran yang harus dipelajari oleh para siswa di sekolah, menyebabkan waktu belajardi kelas semakin sempit.Oleh karena itu materi pelajaran di pondok, terutama yang berhubungan dengan pengetahuan Bahasa Arab (nahwu, sharaf, balaghah, dan sebagainya) dan pengajaran Kitab Kuning, sangat membantudan memperdalam pembelajaran di madrasah.
Secara khusus hubungan madrasah dan pesantren di Kudus memang tidak seperti di daerah lain, misalnya di JawaTimur, dimana pesantren memiliki lembaga pendidikan tersendiri. Di Kudus, kebanyakan antara pesantren dan madrasah berdiri sendiri-sendiri. Namun secara kultural mereka tetap menjalin hubungan dengan baik.
Jalinan hubungan secara kultural ini terjadi karena sebagian besar kyai-kyai tersebut adalah pendiri madrasah. Para kyai pemilik pesantren juga mengajar di madrasah tersebut.Hubunganinisangatmenarik, karena madrasah menja dimilik bersama, madrasah tidak dapat diklaim menjadi milik salah satu pesantren.
Hubungan madrasah dan pesantren seperti ini sudah berjalan sejak lama.Walaupun K.H.R. Asnawi Kudus telah memiliki Pesantren Raudlatuth Thalibin Bendan, tetapi ketika mendirikan Madrasah Qudsiyyah, status madrasah tersebut tidak masuk dalam struktur Pesantren Bendan. Bahkan K.H.R. Asnawi tidak mengambil posisi dominan dalam pengelolaan madrasah.Beliau justru mengajak para kyai-kyai yang lain untuk mengambil bagian dalam pengelolaan madrasah.
Sampai saat ini, para pengelola dan pengasuh Madrasah Qudsiyyah yang kebanyak anadalah para kyai dan memiliki pesantren juga mengambil posisi yang demikian.Mereka adalah K.H. Sya’roni Ahmadi, K.H. Ma’ruf Asnawi, K.H. Ma’ruf Irsyaddan sebagainya.Para siswa bebas memilih tempat mondok dan tempat belajar.
Kondisi demikian juga terjadi untuk Madrasah TBS dan Madrasah NU Banat Kudus. Madrasah TBS yang dikelolaoleh Yayasan Arwaniyah ini tidak berarti semua muridnya harus mondok di Pesantren Yanbu’ (PTYQ), akan tetapi mereka bebas memilih tempat mondok dan tempat belajar. Para pengeloladan pengasuh di sini juga banyak yang memiliki pesantren, seperti K.H. UlilAlbab K.H. UlinNuha,  K.H. Chairuzad, dans ebagainya.
Berdasarkan survey awal yang telah dilakukan penelitidan wawancara dengan Kepala Kantor Kemeterian Agama Kabupaten Kudus ada tiga Madrasah Aliyah yang dapat dikategorikan madrasah unggul, baik dalam bidang akademik, maupun non akademik. Madrasah yang dimaksud adalah MAN 2 Kudus (berstatus negeri, terakreditasi A nilai 95), MA NU Banat Kudus (madrasah khusus puteri berstatus swasta, terakreditasi A nilai 95) dan MA TBS Kudus (madrasah khsusus putera berstatus swasta terakreditasi A nilai 86). Dengan pertimbangan prestasi akademik dan non akademik yang dimilikinya, serta beberapa kekhususan yang dimilikinya, maka ketiga madrasah aliyah tersebut dipilih menjadi latar penelitian ini.

0 komentar:

Posting Komentar